Menentukan Skala Prioritas, sebuah catatan ringan

sambil menunggu pesawat yang pemberangkatannya delay, saya bersebelahan dengan seorang lelaki berusia sekitar 40 tahun dengan berpakaian biasa, tapi dari body languagenya¬† saya menebak ia bukan orang biasa. Terjadi obrolan-obrolan ringan. Dari obrolan tersebut saya mengetahui ia seorang yang sudah sukses hidupnya dalam karier dan kekayaan materi. Istilah sekarang “tajir melintir” . Untuk mencapai itu, kisah hidupnya penuh perjuangan melewati banyak cobaan dan tantangan. Saat ini ia sudah membuktikan lulus.
“Mas, saya mau mengajukan pertanyaan klise ”
“He he silahkan Pak”
“Apa kunci atau kiat-kiat dari kesuksesan anda ? ”
“Ha ha ha….bener Pak itu pertanyaan klise, Ha ha ha..tapi saya jawab deh” jawabnya sambil tertawa.
“Saat ini saya memang suka mengevaluasi diri melihat kebelakang, apa perbedaan saya dengan teman-teman saya”
Jawabnya mulai serius.

“Saya tidak pintar dan tidak bodoh, saya tidak ganteng, saya memang pekerja keras tapi teman-teman saya juga pekerja keras. Saya baru sadar bedanya adalah di penetapan SKALA PRIORITAS, dari banyak pilihan kerja atau kegiatan”

“Saya tidak mampu pegang banyak hal bersamaan, waktu dan otak saya terbatas, jadi saya biasanya hanya fokus pada hal-hal yang saya tetapkan sebagi prioritas pertama”

” Ooohh…….”sambil saya manggut-manggut, sangat setuju pendapatnya. Sebagian besar riwayat orang sukses memang menunjukkan bahwa mereka sukses dan berprestasi hanya pada satu bidang, pada bidang-bidang lain mereka juga punya kelemahan. Dan masyarakat sudah tidak peduli lagi.

Kenapa saya baru bertemu dia udah seumur sekarang ya ? ( defence…).

catatan EST



Leave a Reply